BAB I
SISTEM BILANGAN
1. Penjumlahan Biner
Penjumlahan Biner serupa dengan penjumlahan pada
bilangan desimal. Dua bilangan yang akan dijumlahkan
disusun secara vertikal dan digit-digit yang mempunyai
signifikasi sama ditempatkan pada kolom yang sama. Digitdigit
ini kemudian dijumlahkan dan jika dijumlahkan lebih
besar dari bilangan basisnya (10 untuk desimal dan 2
untuk biner), maka ada bilangan yang disimpan. Bilangan
yang disimpan ini kemudian dijumlahkan dengan digit
disebelah kirinya, dan seterusnya. Dalam penjumlahan
biner, pinyimpanan aka terjadi jika jumlah dari dua digit
yang dijumlahkan adalah 2.
Operasi ilmu hitung dengan bilangan biner juga
mengikuti aturan yang berlaku untuk bilangan desimal,
bahkan lebih sederhana karena angka-angkanya yang
terlibat hanyalah 0 dan 1.
Untuk mendapatkan aturan penambahan dalam bilangan
biner perlu dibahas empat kasus sederhana berikut:
1. Bila kosong ditambah dengan kosong, Hasilnya adalah
kosong. Perwakilan biner dalam hal ini adalah 0 + 0 =
0.
2. Bila kosong ditambah dengan 1 maka hasilnya adalah 1.
Dengan bilangan biner dapat dituliskan sebagai 0 + 1 =
1.
3. Bila 1 ditambah dengan kosong, hasilnya 1. Setara biner
untuk ini adalah 1 + 0 = 1.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
4. Bila 1 ditambah dengan 1, Hasilnya adalah 2. Dengan
menggunakan bilangan biner, hal itu diwakili oleh 1 +
1 = 10.
Jadi keempat kasus di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut:
0 + 0 = 0
0 + 1 = 1
1 + 0 = 1
1 + 1 = 10 (0 dengan simpanan 1)
untuk menjumlahkan bilangan yang lebih besar, simpanan
untuk kolom dengan urutan yang lebih tinggi dilakukan
seperti hanya dengan bilangan desimal biasa.
Contoh
Jumlahkanlah bilangan biner 101 dengan 110.
Jawab 101
110 +
1011
Kolom pertama : 1 + 0 = 1
Kolom kedua : 0 + 1 = 1
Kolom ketiga : 1 + 1 = 10 (0 dengan simpanan 1)
2. Pengurangan Biner
Pada bagian ini hanya akan ditinjau pengurangan
bilangan biner yang memberikan hasil positif. Dalam hal
ini, metode yang digunakan adalah sama dengan metode yang
digunakan untuk pengurangan pada bilangan desimal. Dlam
pengurangan bilangan biner jika perlu dipinjam 1 dari
kolom disebelah kirinya, yaitu kolom yang mempunyai
derajat lebih tinggi.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Untuk mengurangkan bilangan biner, ditinjau terlebih
dahulu empat kasus berikut:
0 – 0 = 0
1 – 0 = 1
1 – 1 = 0
10 – 1 = 1
Hasil terakhir itu mewakili 2 – 1 = 1. Dalam operasi
pengurangan tersebut, seperti halnya dengan pengurangan
bilangan desimal, dilakukan kolom demi kolom. Bila perlu
dilakukan Peminjaman dari kolom dengan urutan yang lebih
tinggi.
Contoh
Hitunglah 110 dikurangi dengan 101.
Jawab
110
101 -
001
Kolom pertama : 10 – 1 = 1 (setelah meminjam)
Kolom kedua : 0 – 0 = 0 (setelah dipinjamkan)
Kolom ketiga : 1 – 1 = 0
3. Perkalian Biner
Perkalian pada bilangan biner mempunyai aturan
sebagai berikut :
0 x 0 = 0
0 x 1 = 0
1 x 0 = 0
1 x 1 = 1
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Perkalian bilangan biner dapat dilakukan seperti
pada perkalian bilangan desimal. Sebagai contoh, untuk
mengalikan 11102 = 1410 dengan 11012 = 1310 langkah-langkah
yang harus ditempuh adalah
Biner Desimal
1 1 1 0 1 4
1 1 0 1 1 3
--------x ----x
1 1 1 0 4 2
0 0 0 0 1 4
1 1 1 0
1 1 1 0
---------------+ -------+
1 0 1 1 0 1 1 0 1 8 2
Perkalian juga bisa dilakukan dengan menambahkan bilangan
yang dikalikan ke bilangan itu sendiri sebanyak bilangan
pengali.
Contoh di atas, hasilnya akan sam dengan jika kita
menambahkan 1112 ke bilangan itu sendiri sebanyak 1101
atau 13 kali.
4. Pembagian Biner
Pembagian pada sistem bilangan biner dapat
dilakukan sama seperti contoh pembagian sistem bilangan
desimal. Sebagai contoh, untuk membagi 110011 (disebut
bilangan yang dibagi) dengan 1001 (disebut pembagi),
langkah-langkah berikut yang perlu dilakukan.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Hasil 1 0 1
----------------
1 0 0 1 / 1 1 0 0 1 1
/ 1 0 0 1
------------------
0 0 1 1 1 1
1 0 0 1
------------
sisa 1 1 0
Sehingga hasilnya adalah 1012, dan sisa pembagian adalah
1102.
Pembagian bisa juga dilakukan dengan cara menjumlahkan
secara berulang kali dengan bilangan pembagi dengan
bilangan itu sendiri sampai jumlahnya sama dengan
bilangan yang dibagi atau setelah sisa pembagian yang
diperoleh lebih kecil dari bilangan pembagi.
5. Komplemen R
Dalam sistem digital, komplemen digunakan untuk
memudahkan operasi pengurangan dan untuk manipulasi
logika. Ada dua macam komplemen untuk setiap sistem
bilangan dengan radiks R: komplemen-R dan komplemen-(R-
1). Bila nilai radiks itu diberikan, kedua jenis
komplemen itu mempunyai nama yang sesuai dengan nilai
Hasilnya; komplemen-10 dan komplemen-9 untuk bilangan
desimal, komplemen-1 dan komplemen-0 untuk sistem biner.
Komplemen-R untuk suatu bilangan nyata positif-N
dengan radiks R dan bagian bulatnya terdiri atas n angka,
didefinisikan sebagai
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Rn – N untuk N ≠1
0 untuk N = 0
komplemen-10 untuk 4321010 adalah 105 – 43210 = 56790
karena banyaknya angka tersebut adalah n = 5.
Komplemen-10 untuk 0.09810 adalah 100 – 0.098 = 0.902.
Dalam hal ini bilangan itu tidak mempunyai bilangan bulat
sehingga n = 0.
Komplemen-10 untuk 765.4310 adalah 103 – 765.43 = 234.57
Komplemen-2 untuk 11001102 adalah 210
7 – 11001102 =
100000002 – 11001102 = 00110102.
Komplemen-2 untuk 0.10102 adalah 1 – 0.10102 = 0.01102.
Dari definisi dan uraian di atas, jelas bahwa komplemen-
10 untuk bilangan desimal dapat dibentuk dengan
membiarkan semua 0 pada kedudukan yang terendah tidak
berubah, mengurangkan semua angka apda kedudukan ayng
lebih tinggi lainnya dari 9. komplemen-2 dapat dibentuk
dengan membiarkan semua nol pada LSB dan 1 yang pertama
dari kanan tidak berubah, dan kemudian mengubah semua 1
yang lain menjadi 0 dan semua 0 yang lain menjadi 1.
Komplemen-R suatu bilangan dapat diperoleh untuk setiap
radiks (R lebih besar dan tidak sama dengan 1) dengan
definisi yang telah diberikan itu.
Cara pengurangan langsung yang diajarkan di sekolah
dasar adalah menggunakan konsep pinjaman. Dalam cara itu,
bila pada salah satu kolom nilai yang dikurangi lebih
besar daripada yang mengurangi, dipinjam sebuah 1 dari
kolom dengan kedudukan yang lebih tinggi. Hal yang
demikian itu sangat mudah bila dikerjakan di atas kertas.
Bila cara pengurangan itu dilakukan dengan pertolongan
rangkaian logika, cara itu ternyata kurang efisien.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Metode pengurangan dengan memanfaatkan komplemen dan
penjumlahan lebih sesuai untuk dikerjakan dengan
rangkaian logika.
Pengurangan dua bilangan positif (M – N), dan
keduanya mempunyai radiks R yang sama, dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1. Tambahkan bilangan yang dikurangi, M, ke komplemen-R
dari bilangan yang mengurangi, N.
2. Periksa hasil penjumlahan yang diperoleh dalam langkah
1 itu.
a. Jika Hasilnya mempunyai simpanan akhir,
abaikan simpanan akhir itu.
b. Jika Hasilnya tidak mempunyai simpanan
akhir, cari komplemen-R untuk bilangan yang
diperoleh dalam langkah 1 dan berikan tanda
negatif depannya.
6. Komplemen R-1
Untuk suatu bilangan positif N dengan radiks R dan bagian
bulatnya terdiri dari n angka serta bagian pecahannya m
angka, komplemen –(R – 1) untuk N didefinisikan sebagai
Rn – Rm – N
Komplemen-9 untuk 4321010 adalah 105 – 100 – 43210 = 99999
– 43210 = 56789. dalam hal ini bilangan tersebut tidak
mempunyai bagian pecah sehingga m = 0.
Komplemen-9 untuk 0.987610 adalah 100 – 10-4 – 0.9876 =
0.9999 – 0.9876 = 0.0123. Di sini bilangan itu tidak
mempunyai bagian bulat sehingga n = 0.
Komplemen-9 untuk 23.45610 adalah 102 – 10-3 – 23.456 =
99.999 – 23.456 = 76.543.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik
Penjumlahan Biner serupa dengan penjumlahan pada
bilangan desimal. Dua bilangan yang akan dijumlahkan
disusun secara vertikal dan digit-digit yang mempunyai
signifikasi sama ditempatkan pada kolom yang sama. Digitdigit
ini kemudian dijumlahkan dan jika dijumlahkan lebih
besar dari bilangan basisnya (10 untuk desimal dan 2
untuk biner), maka ada bilangan yang disimpan. Bilangan
yang disimpan ini kemudian dijumlahkan dengan digit
disebelah kirinya, dan seterusnya. Dalam penjumlahan
biner, pinyimpanan aka terjadi jika jumlah dari dua digit
yang dijumlahkan adalah 2.
Operasi ilmu hitung dengan bilangan biner juga
mengikuti aturan yang berlaku untuk bilangan desimal,
bahkan lebih sederhana karena angka-angkanya yang
terlibat hanyalah 0 dan 1.
Untuk mendapatkan aturan penambahan dalam bilangan
biner perlu dibahas empat kasus sederhana berikut:
1. Bila kosong ditambah dengan kosong, Hasilnya adalah
kosong. Perwakilan biner dalam hal ini adalah 0 + 0 =
0.
2. Bila kosong ditambah dengan 1 maka hasilnya adalah 1.
Dengan bilangan biner dapat dituliskan sebagai 0 + 1 =
1.
3. Bila 1 ditambah dengan kosong, hasilnya 1. Setara biner
untuk ini adalah 1 + 0 = 1.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
4. Bila 1 ditambah dengan 1, Hasilnya adalah 2. Dengan
menggunakan bilangan biner, hal itu diwakili oleh 1 +
1 = 10.
Jadi keempat kasus di atas dapat disimpulkan sebagai
berikut:
0 + 0 = 0
0 + 1 = 1
1 + 0 = 1
1 + 1 = 10 (0 dengan simpanan 1)
untuk menjumlahkan bilangan yang lebih besar, simpanan
untuk kolom dengan urutan yang lebih tinggi dilakukan
seperti hanya dengan bilangan desimal biasa.
Contoh
Jumlahkanlah bilangan biner 101 dengan 110.
Jawab 101
110 +
1011
Kolom pertama : 1 + 0 = 1
Kolom kedua : 0 + 1 = 1
Kolom ketiga : 1 + 1 = 10 (0 dengan simpanan 1)
2. Pengurangan Biner
Pada bagian ini hanya akan ditinjau pengurangan
bilangan biner yang memberikan hasil positif. Dalam hal
ini, metode yang digunakan adalah sama dengan metode yang
digunakan untuk pengurangan pada bilangan desimal. Dlam
pengurangan bilangan biner jika perlu dipinjam 1 dari
kolom disebelah kirinya, yaitu kolom yang mempunyai
derajat lebih tinggi.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Untuk mengurangkan bilangan biner, ditinjau terlebih
dahulu empat kasus berikut:
0 – 0 = 0
1 – 0 = 1
1 – 1 = 0
10 – 1 = 1
Hasil terakhir itu mewakili 2 – 1 = 1. Dalam operasi
pengurangan tersebut, seperti halnya dengan pengurangan
bilangan desimal, dilakukan kolom demi kolom. Bila perlu
dilakukan Peminjaman dari kolom dengan urutan yang lebih
tinggi.
Contoh
Hitunglah 110 dikurangi dengan 101.
Jawab
110
101 -
001
Kolom pertama : 10 – 1 = 1 (setelah meminjam)
Kolom kedua : 0 – 0 = 0 (setelah dipinjamkan)
Kolom ketiga : 1 – 1 = 0
3. Perkalian Biner
Perkalian pada bilangan biner mempunyai aturan
sebagai berikut :
0 x 0 = 0
0 x 1 = 0
1 x 0 = 0
1 x 1 = 1
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Perkalian bilangan biner dapat dilakukan seperti
pada perkalian bilangan desimal. Sebagai contoh, untuk
mengalikan 11102 = 1410 dengan 11012 = 1310 langkah-langkah
yang harus ditempuh adalah
Biner Desimal
1 1 1 0 1 4
1 1 0 1 1 3
--------x ----x
1 1 1 0 4 2
0 0 0 0 1 4
1 1 1 0
1 1 1 0
---------------+ -------+
1 0 1 1 0 1 1 0 1 8 2
Perkalian juga bisa dilakukan dengan menambahkan bilangan
yang dikalikan ke bilangan itu sendiri sebanyak bilangan
pengali.
Contoh di atas, hasilnya akan sam dengan jika kita
menambahkan 1112 ke bilangan itu sendiri sebanyak 1101
atau 13 kali.
4. Pembagian Biner
Pembagian pada sistem bilangan biner dapat
dilakukan sama seperti contoh pembagian sistem bilangan
desimal. Sebagai contoh, untuk membagi 110011 (disebut
bilangan yang dibagi) dengan 1001 (disebut pembagi),
langkah-langkah berikut yang perlu dilakukan.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Hasil 1 0 1
----------------
1 0 0 1 / 1 1 0 0 1 1
/ 1 0 0 1
------------------
0 0 1 1 1 1
1 0 0 1
------------
sisa 1 1 0
Sehingga hasilnya adalah 1012, dan sisa pembagian adalah
1102.
Pembagian bisa juga dilakukan dengan cara menjumlahkan
secara berulang kali dengan bilangan pembagi dengan
bilangan itu sendiri sampai jumlahnya sama dengan
bilangan yang dibagi atau setelah sisa pembagian yang
diperoleh lebih kecil dari bilangan pembagi.
5. Komplemen R
Dalam sistem digital, komplemen digunakan untuk
memudahkan operasi pengurangan dan untuk manipulasi
logika. Ada dua macam komplemen untuk setiap sistem
bilangan dengan radiks R: komplemen-R dan komplemen-(R-
1). Bila nilai radiks itu diberikan, kedua jenis
komplemen itu mempunyai nama yang sesuai dengan nilai
Hasilnya; komplemen-10 dan komplemen-9 untuk bilangan
desimal, komplemen-1 dan komplemen-0 untuk sistem biner.
Komplemen-R untuk suatu bilangan nyata positif-N
dengan radiks R dan bagian bulatnya terdiri atas n angka,
didefinisikan sebagai
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Rn – N untuk N ≠1
0 untuk N = 0
komplemen-10 untuk 4321010 adalah 105 – 43210 = 56790
karena banyaknya angka tersebut adalah n = 5.
Komplemen-10 untuk 0.09810 adalah 100 – 0.098 = 0.902.
Dalam hal ini bilangan itu tidak mempunyai bilangan bulat
sehingga n = 0.
Komplemen-10 untuk 765.4310 adalah 103 – 765.43 = 234.57
Komplemen-2 untuk 11001102 adalah 210
7 – 11001102 =
100000002 – 11001102 = 00110102.
Komplemen-2 untuk 0.10102 adalah 1 – 0.10102 = 0.01102.
Dari definisi dan uraian di atas, jelas bahwa komplemen-
10 untuk bilangan desimal dapat dibentuk dengan
membiarkan semua 0 pada kedudukan yang terendah tidak
berubah, mengurangkan semua angka apda kedudukan ayng
lebih tinggi lainnya dari 9. komplemen-2 dapat dibentuk
dengan membiarkan semua nol pada LSB dan 1 yang pertama
dari kanan tidak berubah, dan kemudian mengubah semua 1
yang lain menjadi 0 dan semua 0 yang lain menjadi 1.
Komplemen-R suatu bilangan dapat diperoleh untuk setiap
radiks (R lebih besar dan tidak sama dengan 1) dengan
definisi yang telah diberikan itu.
Cara pengurangan langsung yang diajarkan di sekolah
dasar adalah menggunakan konsep pinjaman. Dalam cara itu,
bila pada salah satu kolom nilai yang dikurangi lebih
besar daripada yang mengurangi, dipinjam sebuah 1 dari
kolom dengan kedudukan yang lebih tinggi. Hal yang
demikian itu sangat mudah bila dikerjakan di atas kertas.
Bila cara pengurangan itu dilakukan dengan pertolongan
rangkaian logika, cara itu ternyata kurang efisien.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik Digital
SMK Telkom Sandhy Putra Malang
Metode pengurangan dengan memanfaatkan komplemen dan
penjumlahan lebih sesuai untuk dikerjakan dengan
rangkaian logika.
Pengurangan dua bilangan positif (M – N), dan
keduanya mempunyai radiks R yang sama, dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1. Tambahkan bilangan yang dikurangi, M, ke komplemen-R
dari bilangan yang mengurangi, N.
2. Periksa hasil penjumlahan yang diperoleh dalam langkah
1 itu.
a. Jika Hasilnya mempunyai simpanan akhir,
abaikan simpanan akhir itu.
b. Jika Hasilnya tidak mempunyai simpanan
akhir, cari komplemen-R untuk bilangan yang
diperoleh dalam langkah 1 dan berikan tanda
negatif depannya.
6. Komplemen R-1
Untuk suatu bilangan positif N dengan radiks R dan bagian
bulatnya terdiri dari n angka serta bagian pecahannya m
angka, komplemen –(R – 1) untuk N didefinisikan sebagai
Rn – Rm – N
Komplemen-9 untuk 4321010 adalah 105 – 100 – 43210 = 99999
– 43210 = 56789. dalam hal ini bilangan tersebut tidak
mempunyai bagian pecah sehingga m = 0.
Komplemen-9 untuk 0.987610 adalah 100 – 10-4 – 0.9876 =
0.9999 – 0.9876 = 0.0123. Di sini bilangan itu tidak
mempunyai bagian bulat sehingga n = 0.
Komplemen-9 untuk 23.45610 adalah 102 – 10-3 – 23.456 =
99.999 – 23.456 = 76.543.
Modul Teknik Digital
Laboratorium Teknik
I.1. Sistem Bilangan Biner.
Sistem
bilangan yang paling kita kenal adalah sistem bilangan desimal. Selain sistem
bilangan desimal terdapat bermacam-macam sistem bilangan, salah satunya ada-lah
sistem bilangan biner. Masing-masing
sistem bilangan tersebut dibatasi oleh basis yaitu banyaknya angka atau digit
yang digunakan.
Sistem
bilangan desimal mempunyai basis = 10 karena sistem bilangan desimal mempunyai
10 digit yaitu dari 0 sampai dengan 9. Arti biner adalah dua. Sistem bilangan
biner hanya menggunakan dua digit, yaitu 0 dan 1. Seluruh digit yang lain (2
sampai 9) tidak dipergunakan. Dengan perkataan lain, bilangan-bilangan biner
merupa-kan string dari 0 dan 1.
Bobot
dari suatu bilangan tergantung kepada basis-nya dan susunan bilangan ter-sebut.
Misalnya untuk bilangan desimal 278,94 mempunyai bobot :
(2x102)+(7x101)+(8x100)+(9x10-1)
+(4x10-2) = 200 + 70 + 8 + 0,9 + 0,04 = (278,94)10
Dari
penulisan di atas kita dapat melihat bahwa 2 mewakili harga ratusan (102),
7 mewakili harga puluhan (101), 8 mewakili harga satuan (100),
9 mewakili harga perse-puluhan (10-1), dan 4 mewakili harga
perseratusan (10-2).
Demikian
pula halnya dengan bobot bilangan untuk bilangan biner, cara per-hitungannya
persis sama, cuma angka 10 diganti dengan angka 2. Contoh untuk bilangan
1101,101:
(1x23) + (1x22)
+ (0x21) + (1 x2 0) + ( 1x 2-1) + ( 0x2-2)
+ ( 1x2-3) = 8+ 4 + 0 + 1 + 0,5 + 0,125 = ( 13,625)10
Contoh 2 10111,011= 23,375
Dari
perhitungan dapat dilihat bahwa digit yang paling kanan mempunyai nilai yang
terkecil, sedang digit yang paling kiri mempunyai nilai yang terbesar. Digit yang mempunyai nilai yang terkecil disebut LSB (Least
Significant Bit) dan digit yang mempunyai nilai yang terbesar disebut MSB (Most
Significant Bit).
I.2. Berhitung Biner.
Sebagaimana halnya
dengan bilangan desimal, yang dapat dilakukan di dalamnya berbagai operasi
komputasi (perhitungan), maka pada bilangan-bilangan biner dapat pula
dikerjakan operasi-operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
I.2.1. Penjumlahan Biner.
Penjumlahan bilangan biner sama
saja caranya dengan penjumlahan bilangan desi-mal. Aturan
yang digunakan untuk penjumlahan adalah :
0 +
0 = 0
0 +
1 = 1
1 +
0 = 1
1 +
1 = 0 , dengan pindahan 1 pada bit biner sebelah kirinya.
Contoh :
1). 1 0 0 1
(9) 2). 0 1
1 1 (7)
1 1 1
0 (14) 1
0 1 0
(10)
---------------
+ ----------------------------. +
1 0 1 1 1
(23) 10
0 0 1 (17)
I.2.2.
Pengurangan Biner
Pengurangan bilangan biner dapat
dilakukan dengan cara yang sama seperti pengurangan bilangan desimal, yaitu
sebagai kebalikan dari penjumlahan. Tiap-tiap bit dari pengurang (subtrakenol) mengurangi bit yang
berpadanan dengan bilangan yang dikurangi (minunol). Jika angka diminunol lebih
kecil dari angka pengurang, maka dipinjam satu (1) dari lajur berikutnya
sebelah kiri. Meminjam kebalikan dari pindahan . Cara pengurangan demikian
ternyata tidak cocok untuk diwujudkan secara elektronik, karena akan membuat
rangkaian menjadi rumit. Hal ini disebabkan karena tidak ada konsep logika -1.
Sehingga perlu dicari cara untuk mempresentasikan bilangan-bilangan negatif.
Untuk mengatasai cara ini, maka dipakai metoda " mengkomplemen dan menjumlah".
Komplemen
dari suatu bilangan biner diperoleh dengan cara membalik tiap-tiap bit dari
bilangan tersebut.
Komplemen
dari subtrakenol dijumlahkan dengan minunol dan hasil pindahan dari jumlah bit
yang bobotnya paling besar (MSB) dicatat. Jika hasilnya
adalah 1, berarti bahwa hasil pengurangan adalah bilangan positif. Untuk
mendapatkan hasil akhirnya, maka harus dilakukan "pemindahan memutar ke
ujung" (lend around car-ry) dan bit yang paling kecil bobotnya (LSB) harus
ditambahkan dengan bit pin-dahan tersebut. Bila bit pindahannya adalah 0, maka
dapat disimpulkan:
a.
Hasil pengurangan adalah
negatif.
b.
Hasil pengurangan merupakan
komplemen dari jawaban akhir karena itu untuk mendapatkan hasil akhir yang
benar, maka hasil penjumlahan tersebut harus dikomplemenkan.
Contoh:
1). 1001 (9) - 0100 (4) 2).
0111 (7) - 1101(13)
1001 (9) 0111 (7)
1011 (komplemen-1 dari
4) 0010(komplemen dari 13
------------ +
--------- +
1
(pindahan memutar ke ujung) 0110 (komplemen-1=hasilnya)
-------+ menunjukkan
hasilnya bil.negatif -6
menanda- 0101 (Hasilnya
+5)
kan hasilnya bil.positif
1100
7 0111
à komp-1 1000
-----
1 0100
1
0101Ã 5
Bila
menggunakan metode ini ada dua hal yang harus diperhatikan :
1. Kedua bilangan harus dituliskan
dalam jumlah bit yang sama, misalnya bila suatu bilangan yang terdiri dari 5
bit (10011) dikurangi dengan bilangan yang terdiri dari 3 bit (101), maka
bilangan tersebut harus dituliskan dahulu dalam 5 bit yaitu 00101 dan bila
dikomplemenkan akan menjadi 11010.
2. Perlu diperhatikan jumalh bit yang
digunakan dalam perhitungan sehinggaakan menjadi jelas mana bit yang merupakan
hasil pindahan yang akan menentukan tanda bilangan. Bila perhitungan
menggunakan 5 bit, maka bit yang ke-6 meru-pakan pindahan, jadi bukan bit yang
paling besar bobotnya. Bit tersebut hanya merupakan tanda positif atau negatif
dari bilangan hasil pengurangan yang juga akan menentukan.
Contoh :
111 (7) - 10110 (22)
00111
(7)
01001
(komplemen dari 22)
-------- +
10000 (jumlah)
01111 (komplemen = hasilnya - 15)
1.2.3. Perkalian Biner
Cara
untuk mengalikan bilangan biner seperti pada perkalian bilangan desimal.
Contoh : 1100 (12) x 1011 (4)
------------------> 1100
1011
-------x
1100
1100
0000
1100
------------
10000100 (Hasil = 132)
1.2.4. Pembagian Bilangan Biner
Caranya sama saja
dengan pembagian pada bilangan desimal.
100 1010
---
100
100
----
-
0
1.3.
Konversi
Bilangan dari Satu Radiks ke Radiks Lainnya.
1.3.1.
Mengubah
Bilangan Desimal Menjadi Bilangan Biner.
Caranya dapat dilihat pada bahagian sebelumnya.
1.3.2.
Mengubah
Bilangan desimal menjadi Bilangan Oktal.
Caranya
sama dengan untuk proses konversi bilangan biner hanya pembaginya yang berbeda
yaitu 8.
Contoh
: Carilah Bilangan Oktal dari (872)10
872
: 8 = 109 sisa 0 (LSB)
13 : 8 =
1 sisa 5
1 : 8 =
0 sisa 1 (MSB)
Hasilnya
: (872)10 = (1550)8
1.8*3+5.8*2+5.8*1+0.8*0
512+320+40+0=872
1.3.3. Mengubah Bilangan Desimal Menjadi Bilangan Hexadesimal.
Caranya adalah sama
dengan mengubah ke bilangan biner hanya pembaginya = 16.
Contoh : Carilah
bilangan hexadesimal dari (8754)10
8764 : 16 = 547 sisa 12 (LSB) 0-15 10 A, 11 B, 12 C
34 :
16 = 2 sisa 2
2 :
16 = 0 sisa 2 (MSB)
Hasilnya : (8754)10 =
(223C)16
1.3.4.
Mengubah
Bilangan Biner Menjadi Bilangan Oktal.
Untuk
mengubah bilangan biner menjadi bilangan oktal yaitu dengan menge-lompokkan bit-bit
bilangan biner tersebut yang terdiri dari 3 bit dimulai dari LSB masing-masing
kelompok tersebut. Kemudian dibaca bobot bilangannya atau nilai desi-malnya.
Susunan bobot-bobot bilangan tersebut sudah merupakan bilangan oktalnya.
Contoh
: Hitunglah nilai oktal dari (101110111)2
101 / 110
/ 111 = 101
110 111
5 6 7
Hasilnya
: (101110111)2 = (567)8
1.3.5.
Mengubah
Bilangan Oktal Menjadi Bilangan Biner.
Cara
mengubah bilangan oktal menjadi bilangan biner yaitu masing-masing digit
bilangan oktal tersebut diubah langsung menjadi bilangan biner yang terdiri
dari 3 bit. Kemudian kelompok bit tersebut disusun
sesuai dengan urutan semula.
Contoh : Ubahlah
(251)8 menjadi bilangan biner.
(
2 5 1 )8 = ( 010 101 001)2
010 101
001
1.3.6.
Mengubah
Bilangan Biner Menjadi Bilangan Hexadesimal.
Cara
mengubah bilangan biner menjadi bilangan hexadesimal yaitu dengan cara
mengelompokkan bilangan biner tersebut menjadi kelompok yang terdiri dari 4 bit
dimulai dari LSB. Susunan dari bobot bilangan masing-masing kelompok tersebut
adalah bilangan hexadesimal yang dicari.
Contoh
: Ubahlah ( 110101101011)2 menjadi bilangan hexadesimal.
1101 / 0110 /
1011 = ( D6B )16
13=D
6 B
1.3.7.
Mengubah
Bilangan Hexadesimal Menjadi Bilangan Biner.
Cara
untuk mengubah bilangan hexadesimal menjadi bilangan biner yaitu masing-masing
digit bilangan hexadesimal tersebut diubah langsung menjadi bilangan biner yang
terdiri dari 4 bit kemudian kelompok bit tersebut disusun sesuai dengan urutan
semula.
Contoh : Ubahlah (251)16
menjadi bilangan biner .
( 2
5 1 )16 =
(1001010001)2
0010 0101
0001
1.3.8. Bilangan Pecahan.
Rumus bobot bilangan
untuk bilangan pecahan :
d-1r
-1 + d -2 r -2 + ...............+ d -n r -n
Sehingga rumus umum
untuk suatu bilangan utuh dan pecahan adalah :
N(r) = dnrn + dn-1
rn-1 + .........+ d1r1 + d0
r0 + d -1r-1 + d-2 r-2
+ ........+ d-n r-n
dimana : n = menunjukkan digit yang ke berapa dihitung
dari do
d = digit yang digunakan r = radiks dari bilangan
Contoh
:
(
25,1 )8 = ( 2x 81
) + ( 5 x 80 ) + ( 1x 8-1 ) = 16 + 5 + 1/8 = (
21,125 )10
(
10,11 )2 = ( 1 x21 ) + (1 x 2-1 ) + ( 1x2-2 ) = 2 + 0,5 + 0,25 = ( 2,75 )10 Untuk mengubah bilangan
desimal yang mengandung pecahan menjadi bilangan radiks lain, maka
masing-masing bagian yang utuh dan yang pecahan dikerjakan sendiri-sendiri.
Bilangan yang utuh iubah dengan cara pembagian sesuai dengan radiksnya
terus-menerus sampai habis. Sedangkan bilangan pecahan diubah dengan cara
mengalikan berturut-turut dengan radiks baru yang dikehendaki.
Tiap-tiap hasil perkalian yang
utuh (bukan pecahan) akan menjadi digit-digit pecahan bilangan baru tersebut.
32 16 8 4 2 1
A. Operasi-operasi logika
dasar
Ada beberapa operasi-operasi dasar pada suatu rangkaian logika dan untuk menunjukkan suatu perilaku dari operasi-operasi tersebut biasanya ditunjukkan dengan menggunakan suatu tabel kebenaran. Tabel kebenaran berisi statemen- statemen yang hanya berisi:
• Benar yang dilambangkan dengan huruf “T” kependekan dari “True” atau bisa juga dilambangkan dengan angka 1. atau
• Salah yang dilambangkan dengan huruf “F” kependekan dari “False” atau bisa juga dilambangkan dengan angka 0.
B. Gerbang-gerbang logika (Logic
Gates)
Gerbang-gerbang logika yang khususnya dipakai di dalam komputer digital, dibuat dalam bentuk IC (Integrated Circuit) yang terdiri atas transistor-transistor, diode dan komponen-komponen lainnya. Gerbang-gerbang logika ini mempunyai bentuk-bentuk tertentu yang dapat melakukan operasi-operasi INVERS, AND, OR serta NAND, NOR, dan XOR (Exclusive OR). NAND merupakan
gabungan AND dan INVERS
sedangkan NOR merupakan gabungan OR dan INVERS.
a. Gerbang AND Dan NAND
Gerbang AND digunakan untuk menghasilkan logika 1 jika semua masukan mempunyai logika 1, jika tidak akan dihasilkan logika 0. Daftar yang berisi kombinasi semua kemungkinan keadaan masukan dan keluaran yang dihasilkan disebut sebagai Tabel kebenaran dari gerbang yang bersangkutan.
Gerbang NAND akan mempunyai keluaran 0 bila semua
masukan pada logika 1. Sebaliknya, jika sbeuah logika
0 pada sembarang masukan pada gerbang NAND, maka
keluarannya akan bernilai 1. Kata NAND merupakan
kependekan dari NOT-AND, yang merupakan ingkaran
gerbang AND.
B F B F
B F B F
Gambar Simbol
AND dan NAND
Tabel Kebenaran dari Gerbang AND dan NAND
Masukan
|
Keluaran
|
||
A
|
B
|
AND
|
NAND
|
0
0
1
1
|
0
1
0
1
|
0
0
0
1
|
1
1
1
0
|
b. Gerbang OR Dan NOR
Gerbang OR akan memberikan keluaran 1 jika salah satu dari masukannya pada keadaan 1. Jika diinginkan keluaran bernilai
0, maka semua masukan harus dalam keadaan 0
.
Gerbang NOR akan memberikan keluaran 0 jika
salah satu dari masukkannya pada keadaan 1. Jika
diinginkan keluaran bernilai 1, maka semua masukan harus dalam keadaan 0. Kata NOR merupakan kependekan dari
NOT-OR, yang merupakan ingkaran dari gerbang OR.
|
GERBANG
LOGIKA
1. DEFINISI GERBANG LOGIKA
Komputer Digital merupakan
sebuah sistem digital yang melaksanakan bermacam-macam tugas komputasional. Dalam
komputer digital, manipulasi informasi biner dilakukan oleh rangkaian-rangkaian
logika yang disebut gerbang-gerbang (gates).
Gerbang logika adalah blok bangunan dasar untuk
membentuk rangkaian elektronika digital, yang digambarkan dengan simbol-simbol
tertentu yang telah ditetapkan. Sebuah gerbang logika memiliki beberapa masukan
tetapi hanya memiliki satu keluaran. Keluarannya akan HIGH (1) atau LOW (0)
tergantung pada level digital pada terminal masukan. Dengan menggunakan
gerbang-gerbang logika, kita dapat merancang dan mendesain suatu sistem digital
yang akan dikendalikan level masukkan digital dan menghasilkan sebuah tanggapan
keluaran tertentu berdasarkan rancangan rangkaian logika itu sendiri. Hubungan
input dan output dari variabel biner untuk setiap gerbang dapat disajikan dalam
sebuah tabel yang disebut “tabel kebenaran” (truth table).
Beberapa gerbang logika dasar yang akan dibahas adalah
gerbang logika NOT (Inverter), AND, dan OR. Sedangkan gerbang-gerbang logika
kombinasional adalah gerbang logika NOT AND (NAND), NOT OR (atau NOR),
EKSKLUSIVE OR (atau XOR), dan EKSKLUSIVE NOT OR (atau XNOR). Gerbang-gerbang
ini akan dibahas pada modul selanjutnya.
2. GERBANG-GERBANG LOGIKA DASAR
2.1.
GERBANG LOGIKA NOT
(INVERTER)
Gerbang logika
inverter yang sering disebut gerbang logika NOT adalah sebuah gerbang logika
yang memiliki hanya satu input dan hanya satu output, fungsinya sebagai
pembalik.
Prinsip kerja dari
gerbang logika Inverter sangat
sederhana, yaitu apapun keadaan isyarat yang diberikan pada bagian input akan
dibalik oleh gerbang logika ini sehingga pada bagian keluarannya akan menjadi berlawanan,
atau keadaannya terbalik. Gerbang ini mengubah logika sensor sebuah sinyal
biner.
Simbol inverter
dinyatakan dengan sebuah segitiga dengan sebuah lingkaran kecil atau gelembung
(bubble). Perhatikan Gambar

Gambar Gerbang Inverter
Persamaan Aljabar Boole untuk sebuah inverter ditulis :
Garis yang terdapat di atas huruf A disebut dengan
garis pembalik (Bar inversion), yang
digunakan untuk menunjukkan komplemen.
Truth Table
Inverter
A
|
X
|
0
|
1
|
1
|
0
|
Gerbang logika NOT tersedia dalam kemasan sebagai IC (Integrated Circuit). Tata letak pin IC, tipe gerbang logika dan spesifikasi
teknik semuanya termuat dalam manual data logika yang disediakan oleh pabrik
pembuat (manufacturer) dari IC
tersebut. Salah satu IC untuk gerbang inverter adalah IC 7404. Setiap kemasan
IC di dalamnya memiliki 6 gerbang logika NOT.
2.2.
GERBANG LOGIKA AND
Gerbang AND mempunyai
dua atau lebih dari dua sinyal masukan tetapi hanya satu sinyal keluaran.
Gerbang AND mempunyai sifat bila sinyal keluaran ingin HIGH (1) maka semua
sinyal masukan harus dalam keadaan HIGH (1). Selain keadaan tersebut,
keluarannya bernilai LOW (0).
Simbol untuk gerbang
AND terdapat pada Gambar

Gambar Gerbang Logika AND
Persamaan Aljabar Boole untuk gerbang AND ditulis :
Truth Table
AND
A
|
B
|
X
|
0
|
0
|
0
|
0
|
1
|
0
|
1
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
IC untuk gerbang logika AND, salah satunya adalah IC
7408. Setiap kemasan IC berisi empat gerbang logika AND, masing-masing memiliki
dua input.
.
2.3.
GERBANG LOGIKA OR
Gerbang OR mempunyai
dua atau lebih dari dua sinyal masukan tetapi hanya satu sinyal keluaran. Gerbang
OR mempunyai sifat bila salah satu dari sinyal masukan HIGH (1), maka sinyal
keluaran akan menjadi HIGH (1) juga. Pada gerbang ini, keluaran akan bernilai
LOW (0), jika semua masukkan bernilai LOW (0).
Simbol untuk gerbang
AND terdapat pada Gambar

Gambar Gerbang Logika OR
Truth Table
AND
A
|
B
|
X
|
0
|
0
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
1
|
1
|
1
|
IC untuk gerbang logika OR, salah satunya adalah IC 7432. Setiap kemasan IC
berisi empat gerbang logika OR, masing-masing memiliki dua input.
157(10) = (1 x 100) + (5 x 10) + (7 x 1)
Perhatikan! bilangan desimal ini sering juga disebut basis 10. Hal ini dikarenakan perpangkatan 10 yang didapat dari 100, 101, 102, dst.
Mengenal Konsep Bilangan Biner dan Desimal
Perbedaan mendasar dari metoda biner dan desimal adalah berkenaan dengan basis. Jika desimal berbasis 10 (X10) berpangkatkan 10x, maka untuk bilangan biner berbasiskan 2 (X2) menggunakan perpangkatan 2x. Sederhananya perhatikan contoh di bawah ini!
Untuk Desimal:
14(10) = (1 x 101) + (4 x 100)
= 10 + 4
= 14
Untuk Biner:
1110(2) = (1 x 23) + (1 x 22) + (1 x 21) + (0 x 20)
= 8 + 4 + 2 + 0
= 14
Bentuk umum dari bilangan biner dan bilangan desimal adalah :
Biner
1
1
1
1
1
1
1
1
11111111
Desimal
128
64
32
16
8
4
2
1
255
Pangkat
27
26
25
24
23
22
21
20
X1-7
Sekarang kita balik lagi ke contoh soal di atas! Darimana kita dapatkan angka desimal 14(10) menjadi angka biner 1110(2)?
Mari kita lihat lagi pada bentuk umumnya!
Biner
0
0
0
0
1
1
1
0
00001110
Desimal
0
0
0
0
8
4
2
0
14
Pangkat
27
26
25
24
23
22
21
20
X1-7
Mari kita telusuri perlahan-lahan!
• Pertama sekali, kita jumlahkan angka pada desimal sehingga menjadi 14. anda lihat angka-angka yang menghasilkan angka 14 adalah 8, 4, dan 2!
• Untuk angka-angka yang membentuk angka 14 (lihat angka yang diarsir), diberi tanda biner “1”, selebihnya diberi tanda “0”.
• Sehingga kalau dibaca dari kanan, angka desimal 14 akan menjadi 00001110 (terkadang dibaca 1110) pada angka biner nya.
Mengubah Angka Biner ke Desimal
Perhatikan contoh!
1. 11001101(2)
Biner
1
1
0
0
1
1
0
1
11001101
Desimal
128
64
0
0
8
4
0
1
205
Pangkat
27
26
25
24
23
22
21
20
X1-7
Note:
• Angka desimal 205 didapat dari penjumlahan angka yang di arsir (128+64+8+4+1)
• Setiap biner yang bertanda “1” akan dihitung, sementara biner yang bertanda “0” tidak dihitung, alias “0” juga.
2. 00111100(2)
Biner
0
0
1
1
1
1
0
0
00111100
0
0
0
32
16
8
4
0
0
60
Pangkat
27
26
25
24
23
22
21
20
X1-7
Mengubah Angka Desimal ke Biner
Untuk mengubah angka desimal menjadi angka biner digunakan metode pembagian dengan angka 2 sambil memperhatikan sisanya.
Perhatikan contohnya!
1. 205(10)
205 : 2 = 102 sisa 1
102 : 2 = 51 sisa 0
51 : 2 = 25 sisa 1
25 : 2 = 12 sisa 1
12 : 2 = 6 sisa 0
6 : 2 = 3 sisa 0
3 : 2 = 1 sisa 1
1 ô€ƒ† sebagai sisa akhir “1”
Note:
Untuk menuliskan notasi binernya, pembacaan dilakukan dari bawah yang berarti 11001101(2)
2. 60(10)
60 : 2 = 30 sisa 0
30 : 2 = 15 sisa 0
15 : 2 = 7 sisa 1
7 : 2 = 3 sisa 1
3 : 2 = 1 sisa 1
1 ô€ƒ† sebagai sisa akhir “1”
Note:
Dibaca dari bawah menjadi 111100(2) atau lazimnya dituliskan dengan 00111100(2). Ingat bentuk umumnnya mengacu untuk 8 digit! Kalau 111100 (ini 6 digit) menjadi 00111100 (ini sudah 8 digit).
Aritmatika Biner
Pada bagian ini akan membahas penjumlahan dan pengurangan biner. Perkalian biner adalah pengulangan dari penjumlahan; dan juga akan membahas pengurangan biner berdasarkan ide atau gagasan komplemen.
Penjumlahan Biner
Penjumlahan biner tidak begitu beda jauh dengan penjumlahan desimal. Perhatikan contoh penjumlahan desimal antara 167 dan 235!
1 ô€ƒ† 7 + 5 = 12, tulis “2” di bawah dan angkat “1” ke atas!
167
235
---- +
402
Seperti bilangan desimal, bilangan biner juga dijumlahkan dengan cara yang sama. Pertama-tama yang harus dicermati adalah aturan pasangan digit biner berikut:
0 + 0 = 0
0 + 1 = 1
1 + 1 = 0 􀃆 dan menyimpan 1
sebagai catatan bahwa jumlah dua yang terakhir adalah :
1 + 1 + 1 = 1 􀃆 dengan menyimpan 1
Dengan hanya menggunakan penjumlahan-penjumlahan di atas, kita dapat melakukan penjumlahan biner seperti ditunjukkan di bawah ini:
1 1111 ô€ƒ† “simpanan 1” ingat kembali aturan di atas!
01011011 􀃆 bilangan biner untuk 91
01001110 􀃆 bilangan biner untuk 78
------------ +
10101001 􀃆 Jumlah dari 91 + 78 = 169
Silahkan pelajari aturan-aturan pasangan digit biner yang telah disebutkan di atas!
Contoh penjumlahan biner yang terdiri dari 5 bilangan!
11101 bilangan 1)
10110 bilangan 2)
1100 bilangan 3)
11011 bilangan 4)
1001 bilangan 5)
-------- +
untuk menjumlahkannya, kita hitung berdasarkan aturan yang berlaku, dan untuk lebih mudahnya perhitungan dilakukan bertahap!
11101 bilangan 1)
Berapakah bilangan desimal
untuk bilangan 1,2,3,4 dan 5 !!
10110 bilangan 2)
------- +
110011
1100 bilangan 3)
------- +
111111
11011 bilangan 4)
------- +
011010
1001 bilangan 5)
------- +
1100011 􀃆 Jumlah Akhir .
sekarang coba tentukan berapakah bilangan 1,2,3,4 dan 5! Apakah memang perhitungan di atas sudah benar?
Pengurangan Biner
Pengurangan bilangan desimal 73426 – 9185 akan menghasilkan:
73426 􀃆 lihat! Angka 7 dan angka 4 dikurangi dengan 1
9185 􀃆 digit desimal pengurang.
--------- -
64241 􀃆 Hasil pengurangan akhir .
Bentuk Umum pengurangan :
0 – 0 = 0
1 – 0 = 0
1 – 1 = 0
0 – 1 = 1 ô€ƒ† dengan meminjam ‘1’ dari digit disebelah kirinya!
Untuk pengurangan biner dapat dilakukan dengan cara yang sama. Coba perhatikan bentuk pengurangan berikut:
1111011 􀃆 desimal 123
101001 􀃆 desimal 41
--------- -
1010010 􀃆 desimal 82
Pada contoh di atas tidak terjadi “konsep peminjaman”. Perhatikan contoh berikut!
0 ô€ƒ† kolom ke-3 sudah menjadi ‘0’, sudah dipinjam!
111101 􀃆 desimal 61
10010 􀃆 desimal 18
------------ -
101011 􀃆 Hasil pengurangan akhir 43 .
Pada soal yang kedua ini kita pinjam ‘1’ dari kolom 3, karena ada selisih 0-1 pada kolom ke-2. Lihat Bentuk Umum!
7999 􀃆 hasil pinjaman
800046
397261
--------- -
402705
Sebagai contoh pengurangan bilangan biner 110001 – 1010 akan diperoleh hasil sebagai berikut:
1100101
1010
---------- -
100111
Komplemen
Salah satu metoda yang dipergunakan dalam pengurangan pada komputer yang ditransformasikan menjadi penjumlahan dengan menggunakan minusradiks-komplemen satu atau komplemen radiks. Pertama-tama kita bahas komplemen di dalam sistem desimal, dimana komplemen-komplemen tersebut secara berurutan disebut dengan komplemen sembilan dan komplemen sepuluh (komplemen di dalam system biner disebut dengan komplemen satu dan komplemen dua). Sekarang yang paling penting adalah menanamkan prinsip ini:
“Komplemen sembilan dari bilangan desimal diperoleh dengan mengurangkan masing-masing digit desimal tersebut ke bilangan 9, sedangkan komplemen sepuluh adalah komplemen sembilan ditambah 1”
Lihat contoh nyatanya!
Bilangan Desimal 123 651 914
Komplemen Sembilan 876 348 085
Komplemen Sepuluh 877 349 086 􀃆 ditambah dengan 1!
Perhatikan hubungan diantara bilangan dan komplemennya adalah simetris. Jadi, dengan memperhatikan contoh di atas, komplemen 9 dari 123 adalah 876 dengan simple menjadikan jumlahnya = 9 ( 1+8=9, 2+7=9 , 3+6=9 )!
Sementara komplemen 10 didapat dengan menambahkan 1 pada komplemen 9, berarti 876+1=877!
Pengurangan desimal dapat dilaksanakan dengan penjumlahan komplemen sembilan plus satu, atau penjumlahan dari komplemen sepuluh!
893 893 893
321 678 (komp. 9) 679 (komp. 10)
---- - ---- + ---- +
572 1571 1572
1
---- +
572 􀃆 angka 1 dihilangkan!
Analogi yang bisa diambil dari perhitungan komplemen di atas adalah, komplemen satu dari bilangan biner diperoleh dengan jalan mengurangkan masing-masing digit biner tersebut ke bilangan 1, atau dengan bahasa sederhananya mengubah masing-masing 0 menjadi 1 atau sebaliknya mengubah masing-masing 1 menjadi 0. Sedangkan komplemen dua adalah satu plus satu. Perhatikan Contoh .!
Bilangan Biner 110011 101010 011100
Komplemen Satu 001100 010101 100011
Komplemen Dua 001101 010110 100100
Pengurangan biner 110001 – 1010 akan kita telaah pada contoh di bawah ini!
110001 110001 110001
001010 110101 110110
--------- - --------- + --------- +
100111 100111 1100111
dihilangkan!
Alasan teoritis mengapa cara komplemen ini dilakukan, dapat dijelaskan dengan memperhatikan sebuah speedometer mobil/motor dengan empat digit sedang membaca nol!
Sistem Oktal dan Heksa Desimal
Bilangan oktal adalah bilangan dasar 8, sedangkan bilangan heksadesimal atau sering disingkat menjadi heks. ini adalah bilangan berbasis 16. Karena oktal dan heks ini merupakan pangkat dari dua, maka mereka memiliki hubungan yang sangat erat. oktal dan heksadesimal berkaitan dengan prinsip biner!
1. Ubahlah bilangan oktal 63058 menjadi bilangan biner !
6 3 0 5 􀃆 oktal
110 011 000 101 􀃆 biner
Note:
• Masing-masing digit oktal diganti dengan ekivalens 3 bit (biner)
• Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Oktal di bawah!
2. Ubahlah bilangan heks 5D9316 menjadi bilangan biner !
heks 􀃆 biner
5 􀃆 0101
D 􀃆 1101
9 􀃆 1001
3 􀃆 0011
Note:
• Jadi bilangan biner untuk heks 5D9316 adalah 0101110110010011
• Untuk lebih jelasnya lihat tabel Digit Heksadesimal di bawah!
3. Ubahlah bilangan biner 1010100001101 menjadi bilangan oktal !
001 010 100 001 101 􀃆 biner
3 2 4 1 5 􀃆 oktal
Note:
• Kelompokkan bilangan biner yang bersangkutan menjadi 3-bit mulai dari kanan!
4. Ubahlah bilangan biner 101101011011001011 menjadi bilangan heks !
0010 1101 0110 1100 1011 􀃆 biner
2 D 6 C B 􀃆 heks
Tabel Digit Oktal
Digit Oktal
Ekivalens 3-Bit
0
000
1
001
2
010
3
011
4
100
5
101
6
110
7
111
Tabel Digit Heksadesimal
Digit Desimal
Ekivalens 4-Bit
0
0000
1
0001
2
0010
3
0011
4
0100
5
0101
6
0110
7
0111
8
1000
9
1001
A (10)
1010
B (11)
1011
C (12)
1100
D (13)
1101
E (14)
1110
F (15)
1111
|
NOR ≥ F B
Gambar Simbol
Gerbang OR dan NOR Tabel Kebenaran dari Gerbang OR dan NOR
Masukan
|
Keluaran
|
||
A
|
B
|
OR
|
NOR
|
0
0
1
1
|
0
1
0
1
|
0
1
1
1
|
1
0
0
0
|
c. Gerbang NOT
Gerbang NOT merupakan gerbang satu-masukan yang berfungsi sebagai pembalik (inverter). Jika masukannya tinggi, maka keluarannya rendah,
dan sebaliknya. Tabel kebenaran
dari gerbang NOT tersaji
pada Tabel 6.
Simbol Gerbang NOT
Tabel Kebenaran Gerbang
NOT
Masukan
A
|
Keluaran
F
|
0
1
|
1
0
|
d. Gerbang XOR

Gerbang XOR (dari kata exclusive-or) akan memberikan keluaran
1 jika masukan-masukannya mempunyai
keadaan yang berbeda. Dari Tabel tersebut dapat dilihat bahwa keluaran
pada gerbang XOR merupakan penjumlahan biner dari
masukannya.
XOR XNOR
Gerbang XOR dan XNOR
Tabel 7. Tabel Kebenaran dari Gerbang XORdan
XNOR
Masukan
|
Keluaran
(F)
|
||
A
|
B
|
XOR
|
XNOR
|
0
0
1
1
|
0
1
0
1
|
0
1
1
0
|
1
0
0
1
|

